Rumah Berdinding Gedhek di Kalasan Disulap Jadi Hunian Permanen
Rumah Kroniah di Dusun Grembulgede, Selomartani, Kalasan, Sleman, kini berubah jauh dari kondisi sebelumnya. Hunian yang dulu berdinding anyaman bambu, berlantaikan plester, dan memiliki fasilitas terbatas itu kini menjadi rumah permanen dengan dua kamar tidur dan kamar mandi.
Ringkasan Artikel:
- Rumah Kroniah di Selomartani, Kalasan, Sleman, sebelumnya berdinding anyaman bambu, berlantaikan plester, dan memiliki genteng yang lapuk.
- Hunian tersebut kini menjadi rumah permanen dengan lantai keramik, dua kamar tidur, kamar mandi, ruang keluarga, dan dapur bersih.
- Pembangunan berlangsung sekitar tiga bulan dengan melibatkan masyarakat sekitar melalui gotong royong.
- Rumah Kroniah merupakan RLH ke-56 dalam program sosial yang telah berjalan sejak 2016 di sekitar kawasan Candi Prambanan dan Candi Borobudur.
Pagi 17 Agustus 2026 menjadi momen berbeda bagi Kroniah, warga Dusun Grembulgede, Selomartani, Kalasan, Sleman. Bukan hanya karena suasana peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI, tetapi karena rumah yang selama ini ditempatinya kini sudah berubah.
Sebelumnya, rumah Kroniah berukuran sekitar 6 x 7 meter dengan dinding anyaman bambu atau gedhek. Lantainya masih berupa plester, sementara sejumlah genteng sudah dalam kondisi lapuk.
Fasilitas di dalam rumah juga terbatas. Hunian tersebut belum memiliki kamar tidur dan kamar mandi yang memadai untuk menunjang kebutuhan sehari-hari.
Kondisi itu kini berubah setelah rumah Kroniah dibangun melalui program Rumah Layak Huni (RLH) dari InJourney Destination Management (IDM) melalui program tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL).
Rumah yang sebelumnya sederhana tersebut kini menjadi bangunan permanen. Lantainya sudah menggunakan keramik, sementara di dalamnya terdapat dua kamar tidur, kamar mandi, ruang keluarga, dan dapur bersih.
Pembangunan rumah berlangsung sekitar tiga bulan. Dalam prosesnya, masyarakat sekitar juga ikut terlibat dan bergotong royong sehingga pembangunan tidak hanya menjadi bentuk bantuan hunian, tetapi turut melibatkan warga di lingkungan Kroniah.
Rumah tersebut kemudian diresmikan Direktur Utama InJourney Destination Management Febrina Intan bersama jajaran direksi pada Senin (17/8/2026), bertepatan dengan rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI.
Bagi Kroniah, perubahan rumah tersebut bukan sekadar perubahan bangunan. Ia kini memiliki tempat tinggal yang menurutnya lebih nyaman dan aman, sekaligus fasilitas yang sebelumnya belum tersedia.
"Dulu kondisi rumah saya masih sederhana, sekarang sudah jauh lebih baik, lebih nyaman, dan lebih aman untuk ditempati. Saya juga senang karena sekarang sudah punya kamar dan kamar mandi," ujar Kroniah.
Febrina mengatakan keberadaan perusahaan di kawasan destinasi wisata tidak seharusnya hanya berkaitan dengan pengelolaan dan pengembangan pariwisata. Masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan juga perlu mendapatkan manfaat dari keberadaan destinasi.
Menurutnya, pembangunan rumah layak huni menjadi salah satu bentuk kepedulian perusahaan kepada masyarakat sekitar kawasan wisata.
Rumah Kroniah merupakan RLH ke-56 yang dibangun TWC melalui program sosial tersebut. Program ini telah berjalan sejak 2016 dan menyasar warga kurang mampu di sekitar kawasan wisata Candi Prambanan maupun Candi Borobudur.
Perwakilan Panewu Kalasan, Sidi Nugroho, mengapresiasi pembangunan rumah tersebut. Ia berharap program serupa dapat terus menyasar warga yang membutuhkan serta memperkuat kolaborasi antara perusahaan, pemerintah wilayah, dan masyarakat.
Perubahan rumah Kroniah pun menjadi salah satu contoh bagaimana program bantuan hunian tidak berhenti pada pembangunan fisik. Dalam prosesnya, warga sekitar ikut terlibat, sementara hasil akhirnya langsung dirasakan oleh keluarga penerima bantuan.
