Nggak Cuma Depresi, 18.845 Anak di Sleman Berisiko Gangguan Mental
![]() |
| Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Sleman Seruni Angreni Susila. (Ekspos Sleman/Tama) |
Ada temuan yang bikin Dinas Kesehatan Sleman makin serius masuk ke sekolah-sekolah. Dari 18.845 anak yang sudah menjalani skrining kesehatan mental, 5,6 persen terdeteksi punya gejala depresi ringan dan 2,38 persen mengarah ke depresi berat.
Angka lain juga nggak kecil. Sebanyak 5,25 persen anak mengalami gejala kecemasan ringan, sementara 2,06 persen terdeteksi mengarah ke kecemasan berat.
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Sleman Seruni Angreni Susila bilang temuan itu bukan berarti gangguan kesehatan mental tiba-tiba melonjak drastis. Justru, kasus lebih banyak ditemukan karena skrining sekarang dilakukan lebih aktif dibanding sebelumnya.
Deteksi dini dilakukan menggunakan Strengths and Difficulties Questionnaire (SDQ), metode standar Kementerian Kesehatan yang terdiri dari 15 pertanyaan. Hasilnya kemudian ditindaklanjuti tim kesehatan jiwa puskesmas, dokter terlatih, sampai psikolog.
Yang dipetakan Dinkes Sleman bukan cuma soal depresi dan kecemasan. Dalam skrining yang sama, 4,14 persen anak usia pemula juga terdeteksi mulai aktif merokok. Tingginya paparan informasi di media sosial disebut ikut berisiko memicu distraksi mental pada remaja.
Kondisinya makin jadi perhatian karena sampai pertengahan Agustus 2026 tercatat 15 kasus bunuh diri di wilayah hukum Sleman. Jumlah ini sudah lebih dari dua kali total kasus sepanjang tahun lalu yang tercatat tujuh kasus. Latar belakangnya beragam, mulai dari masalah keluarga sampai persoalan ekonomi.
Meski angkanya naik, Dinkes Sleman menegaskan kondisi tersebut belum masuk kategori Kejadian Luar Biasa (KLB). Pemkab Sleman memilih memperkuat deteksi dini dan layanan kesehatan jiwa yang terhubung di seluruh puskesmas dan bisa diakses gratis.
Di sisi lain, orang tua diminta nggak cuma mengawasi anak dari jauh. Pemkab Sleman mendorong keluarga memperkuat komunikasi dan pola pengasuhan, termasuk lewat Gerakan Ayah Sayang Anak (GASA). Ayah didorong lebih aktif ngobrol dengan anak supaya ketika punya masalah, mereka tahu harus cerita ke keluarga, bukan malah meluapkannya di media sosial atau mencari solusi lewat AI.
Kalau anak mulai menunjukkan gejala gangguan psikologis, masyarakat juga diminta nggak menunggu sampai kondisinya makin berat. Layanan kesehatan mental di puskesmas terdekat bisa dimanfaatkan untuk mendapat penanganan lebih awal.
