Belum Setahun, Kasus Bunuh Diri di Sleman Sudah Naik 2 Kali Lipat
Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman mencatat 15 kasus bunuh diri hingga pertengahan Agustus 2026. Angka ini sudah lebih dari dua kali lipat dibandingkan sepanjang 2025 yang tercatat tujuh kasus.
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Sleman dr Seruni Angreni Susila bilang kenaikan ini jadi perhatian pemerintah daerah. Meski begitu, kasus tersebut belum masuk kategori Kejadian Luar Biasa (KLB).
Kasus yang tercatat juga nggak semuanya melibatkan warga Sleman. Sebagian merupakan warga yang tinggal sementara di wilayah Sleman, seperti penghuni kos dan rumah kontrakan.
Latar belakangnya pun beragam. Dinkes Sleman menemukan persoalan keluarga, lilitan utang, sampai masalah ekonomi lainnya dalam sejumlah kasus yang ditangani.
Karena itu, penguatan kesehatan jiwa mulai jadi perhatian serius. Salah satunya dengan memperkuat deteksi dini masalah mental, terutama pada anak usia sekolah dan remaja.
Dinkes Sleman menggunakan Strengths and Difficulties Questionnaire (SDQ) untuk melihat indikasi masalah psikologis pada anak dan remaja. Kalau ditemukan tanda yang perlu diperiksa lebih lanjut, anak akan ditangani tim kesehatan jiwa di puskesmas yang melibatkan psikolog, dokter, dan perawat terlatih.
Selain SDQ, Dinkes Sleman juga mulai memakai perangkat heart rate variability (HRV) untuk melihat respons tubuh terhadap stres. Saat ini ada lima perangkat yang tersedia, masing-masing di empat puskesmas dan satu di Dinkes Sleman.
Seruni juga mengingatkan keluarga agar nggak membiarkan anak menghadapi masalah sendirian. Menurut dia, komunikasi terbuka penting supaya anak punya tempat aman untuk bercerita, terutama saat memasuki usia remaja.
Harapannya sederhana: ketika punya masalah, anak lebih dulu mencari orang tua untuk cerita, bukan malah meluapkannya di media sosial. Dari komunikasi di keluarga itulah masalah kesehatan mental diharapkan bisa dikenali dan ditangani lebih awal.
