Notifications
General

Mimpi UMKM Naik Kelas yang Terus Diulang Setiap Forum


Kalau UMKM Sleman masih ada yang merasa jalan di tempat, mungkin masalahnya bukan di modal, tapi di mental. Setidaknya itu pesan utama yang dibawa Anggota Komisi B DPRD Sleman, Respati Agus Sasangka, saat duduk manis jadi narasumber Bimbingan Teknis (Bimtek) Penguatan Kapasitas UMKM.

Di hadapan para pelaku usaha kecil, Respati tidak datang membawa proposal pinjaman atau amplop bantuan. Ia datang membawa tiga hal klasik khas legislative. Regulasi, data APBD, dan wejangan soal daya juang.

Menurut Respati, DPRD Sleman sejauh ini sudah cukup rajin menyiapkan karpet merah bagi UMKM lewat berbagai Perda. Mulai dari Perda UMKM, Ekonomi Kreatif, PKL, sampai Desa Wisata. Semua sudah ada. Tinggal dipakai, atau minimal dibaca.

"Aturan itu dibuat supaya usaha rakyat bisa mandiri. Pemerintah hanya stimulator, yang menggerakkan ya masyarakat sendiri," katanya.

Masalahnya, negara, dalam hal ini Pemkab Sleman, punya keterbatasan yang tak bisa dihindari. Dari total APBD Sleman Rp3,6 triliun, kata Respati, hanya sekitar 30–40 persen yang benar-benar bisa dipakai untuk mendorong ekonomi rakyat. Sisanya? Ya, habis untuk belanja rutin yang itu-itu saja.

Padahal, perputaran uang di Sleman mencapai Rp12 triliun per tahun. Angka yang bikin dahi berkerut sekaligus membuka satu kesimpulan sederhana, ekonomi daerah tidak mungkin digerakkan hanya dari meja pemerintah. UMKM mau tak mau harus jadi mesin utamanya.

Di titik inilah Respati mulai masuk ke wilayah favorit para motivator, kreativitas dan mental tangguh. Ia mengingatkan bahwa zaman sudah berubah. Berdagang tak selalu butuh toko. Bahkan, punya produk sendiri pun bukan lagi syarat mutlak, asal pintar mainkan media online.

"Sekarang banyak yang sukses tanpa toko fisik. Bahkan tanpa produk sendiri. Yang penting mentalnya," katanya.

Mental, menurut Respati, adalah modal yang sering diremehkan. Modal uang bisa dicari, tapi mental wirausaha yang berani gagal, berani berubah, dan berani mencoba lagi, itu yang susah diajarkan kalau tidak dilatih.

Ia pun mendorong pelaku UMKM Sleman untuk rajin membaca peluang pasar dan membangun jejaring usaha. Naik kelas, katanya, bukan cuma soal omzet, tapi juga cara berpikir.

DPRD, klaim Respati, akan tetap mengawal kebijakan yang berpihak pada ekonomi rakyat. Sementara Bimtek seperti ini diharapkan bukan sekadar acara duduk, dengar, lalu pulang dengan map plastik, tapi benar-benar jadi pemantik perubahan.

Karena kalau UMKM hanya menunggu bantuan, sementara dunia sudah lari kencang ke digital, yang tertinggal bukan cuma usaha kecilnya, tapi juga mimpi naik kelas yang terus diulang di setiap forum.

Post a Comment
Berita Populer
Scroll to top